Karya Tulis Ilmiah AKBID :
KARAKTERISTIK SUAMI DENGAN IBU MENYUSUI DALAM PEMBERIAN
ASI EKSLUSIF DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS
KECAMATAN KARYA MANDIRI TAHUN 2014
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Kelahiran bayi
kiranya merupakan momen yang paling menggembirakan bagi orang tua. Mereka ingin
bayi mereka sehat dan memiliki lingkungan emosi dan fisik yang terbaik. Setelah
lahir, nutrisi memainkan peran terpenting bagi pertumbuhan dan perkembangan
yang sehat dari bayi itu (Ramaiah, 2006)
Pada masa lima tahun kehidupan anak, pertumbuhan mental
dan intelektual berkembang sangat cepat, yang disebut Golden Period.
Pada masa itu terbentuk dasar-dasar kemampuan keinderaan, berpikir dan
berbicara serta pertumbuhan mental intelektual yang intensif dan awal
pertumbuhan moral. Gerbang pertama untuk membangun sumber daya manusia yang
berkualitas adalah ASI (Air Susu Ibu) eksklusif. Banyak penelitian sudah
membuktikan, ASI membuat bayi jauh lebih sehat, kekebalan yang tinggi,
kecerdasan emosional dan spiritual lebih baik. IQ pun bisa lebih tinggi
dibandingkan dengan anak-anak yang ketika bayi tidak diberi ASI Eksklusif dan
ASI juga mempunyai dampak ekonomis yang sangat tinggi, serta ASI tidak bisa
digantikan dengan zat makanan manapun (Markum, www. Cyberwoman 2006).
Pemberian ASI yang dianjurkan ditingkat internasional dan
nasional adalah pemberian ASI segera setengah jam setelah bayi lahir, kemudian
pemberian ASI saja sampai bayi berusia 6 bulan, selanjutnya pemberian ASI
diteruskan sampai 2 tahun dengan pemberian makanan pendamping ASI. Pemberian
ASI eksklusif merupakan salah satu kontribusi terpenting bagi kesehatan,
pertumbuhan, dan perkembangan bayi baru lahir, bayi dan anak-anak. Manfaatnya
akan semakin besar apabila pemberian ASI dimulai pada 1 jam pertama setelah
kelahiran, dimana bayi membutuhkan makanan dan tanpa pemberian susu tambahan.
Selain kekayaan gizi yang jelas dimiliki ASI, pemberian ASI juga melindungi
bayi dari kematian dan kesakitan. Bayi yang diberi ASI eksklusif kemungkinan
menderita diare dan infeksi pernafasan hanya seperempat dari seluruh kejadian
yang diderita bayi yang tidak diberi ASI (Widyastuti, 2004).
Pada masa bayi, orang tua lebih merupakan perawat, pada
masa balita sebagai pelindung, diusia prasekolah sebagai pengasuh, pada waktu
usia sekolah dasar sebagai pendorong. Perubahan peran itu perlu terjadi agar
pola pengasuhannya menjadi tepat meski ASI eksklusif memiliki banyak
keunggulan, jumlah ibu yang menyusui anaknya makin menurun. Data terakhir
menunjukkan adanya penurunan prevalensi ASI eksklusif dari 65,1% (Susenas 1989)
menjadi 49,2% (Susenas 2001). Proporsi bayi mendapatkan ASI Eksklusif di
pedesaan lebih tinggi dibandingkan perkotaan dan kawasan timur Indonesia lebih
tinggi daripada di kawasan Jawa, Bali, dan Sumatera. Sedangkan ibu menyusui
bayinya sampai usia 12-15 bulan sekitar 86% dan sekitar 66% menyusui sampai
bayi berumur 22-23 bulan. Mengingat dewasa ini para ibu di negara-negara maju
seperti di Eropa, Amerika dan Australia telah menjadikan pemberian ASI secara
eksklusif sebagai perilaku pola asuh bayi. Meski mereka bekerja, tapi hal ini
tidak menghambat keberhasilan pemberian ASI secara eksklusif (Swasono 2006).
Berbeda dengan para ibu di negara berkembang seperti
Indonesia, yang cenderung memilih memberikan susu formula kepada bayinya.
Bahkan pada sebagian ibu, perilaku ini berkembang menjadi semacam gengsi.
Celakanya, perilaku yang salah ini lalu ditiru oleh para ibu dari keluarga
kurang mampu, sehingga terjadi pemberian susu formula yang sangat encer dan
tidak memenuhi kebutuhan gizi bayi (Roesli, 2006).
Menurut Survey Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) pada
tahun1997 sampai 2002 lebih dari 95% ibu pernah menyusui bayinya. Namun yang
menyusui dalam 1 jam pertama setelah melahirkan cenderung menurun dari 8% pada
tahun 1997 jadi 3,7% pada tahun 2002. cakupan ASI Eksklusif 6 bulan menurun
dari 42,4% pada tahun 1997 menjadi 39,5% pada tahun 2002. Penggunaan susu
formula meningkat lebih dari 3 x lipat selama 5 tahun dari 10,8% pada tahun
1997 menjadi 32,5% pada tahun 2002 (www.depkes.go.id, 2006).
Dari sebuah survei yang dilakukan oleh Yayasan Lembaga
Konsumsi Indonesia (YLKI) pada tahun 1995 terhadap ibu-ibu se Jabotabek,
diperoleh data bahwa alasan pertama berhenti memberikan ASI pada anaknya adalah
“takut di tinggal suami”. Ini semua karena mitos yang salah yaitu menyusui akan
mengubah bentuk payudara menjadi lembek (Roesli, 2000).
Sedangkan pada saat ini tampak ada kecenderungan
menurunnya penggunaan ASI pada sebagian masyarakat di kota-kota besar. Di kota
besar sering kita melihat bayi diberi susu botol daripada disusui ibunya,
sementara di pedesaan kita melihat bayi yang berusia 1 bulan sudah diberi
pisang atau nasi lembut sebagai tambahan ASI. Pemberian ASI eksklusif pada bayi
0-6 bulan untuk Propinsi XYZ adalah 57.207 bayi atau hanya sekitar 34,53% dari
jumlah bayi 165.656 bayi. Sedangkan pemberian ASI ekslusif pada bayi 0-6 bulan
untuk Kota Maju adalah 900 bayi atau sekitar
58,82% dari jumlah bayi 1530 bayi. (Profil Kesehatan Propinsi XYZ, 2014).
Data prasurvei yang didapat oleh penulis di Dinas
Kesehatan Kota Maju mengenai cakupan pemberian
ASI rkslusif tahun 2005 adalah sebagai berikut :
Tabel 1
Data Cakupan ASI Eksklusif Kota Maju Sejahtera 2014
No |
Puskesmas
|
Sasaran
|
Cakupan
|
%
|
1
2
3
4
5
6
|
A
B
C
D
F
G
|
282
241
334
241
139
227
|
238
27
158
183
27
177
|
84,39
11,2
47,3
75,93
19,93
77,97
|
JUMLAH
|
1464
|
810
|
55,32
|
|
Sumber : Laporan Cakupan
ASI Eksklusif Dinas Kesehatan Kota .Maju tahun 2014
Dari
tabel di atas dapat dilihat bahwa cakupan pemberian ASI ekslusif Kota Maju tahun 2014 hanya mencapai 55,32%, sedangkan target untuk cakupan
pemberian ASI eksklusif Kota Maju untuk tahun 2005 adalah 60%.
Cakupan pemberian ASI Eksklusif yang terendah ialah Puskesmas Kota Maju, hanya tercapai 11,2% atau 27 ibu dari 241 ibu yang menyusui dan
cakupan pemberian eksklusif yang paling tinggi dicapai oleh Puskesmas A yaitu
sebesar 84,39% atau 238 ibu dari 282 ibu yang menyusui.
Semua ibu
seharusnya dapat menyusui anaknya dan memenuhi kebutuhan nutrisi anaknya dimana
ASI dapat menjadi makanan tunggal bagi bayi sampai berusia 6 bulan. Dalam upaya
pemberian ASI eksklusif agar berhasil dimulai dan dimantapkan, ibu butuh
dukungan aktif baik dari keluarga maupun orang-orang yang penting bagi ibu
misalnya suami (Roesli, 2000).
Keberhasilan
memberikan ASI Eksklusif selain bergantung pada ibu juga sangat bergantung pada
suami karena peran suami sama besarnya dengan peran ibu terutama dalam segi
psikologis, sehingga jika seorang ibu berhasil memberi ASI eksklusif selama 4
atau bahkan 6 bulan, hal ini merupakan keberhasilan ibu dan suami (Roesli,
1999).
Dari pengalaman
selama lebih dari 15 tahun menggeluti masalah ASI dapat dipastikan bahwa suami
yang berperan sebagai ayah merupakan bagian vital dalam keberhasilan ataupun
kegagalan menyusui. Masih banyak para suami yang berpendapat salah. Para suami
ini berpendapat bahwa menyusui adalah urusan ibu dan bayinya. Mereka menganggap
cukup menjadi pengamat yang pasif saja, sebenarnya suami mempunyai peran yang
sangat penting dalam keberhasilan menyusui, terutama untuk menjaga agar refleks
oksitosin lancar (Roesli, 2000).
Di hari
pertama setelah melahirkan, ibu pastilah mengalami kelelahan fisik dan mental.
Akibatnya, ibu merasa cemas, tidak tenang, hilang semangat, dan sebagainya. Ini
merupakan hal normal yang perlu diantisipasi suami maupun pihak keluarga. Namun
dalam beberapa kasus, terutama pada anak pertama, banyak suami yang lebih sibuk
dengan bayinya dari pada memperhatikan kebutuhan sang istri. Jika kondisi ini
terus-menerus berlanjut maka ibu akan merasa bahwa perhatian suami padanya
telah menipis sehingga muncul asumsi-asumsi negatif. Terutama yang terkait erat
dengan penampilan fisiknya setelah bersalin. Tubuh yang dianggap tak lagi
seindah dulu membuat suami lebih mencintai anak dari pada dirinya sebagai
istri. Perasaan negatif ini akan membuat refleks oksitosin menurun dan produksi
ASI pun terhambat. Karena pikiran negatif ibu memengaruhi produksi ASI, maka
dukungan suami sangat dibutuhkan. Pentingnya suami dalam mendukung ibu selama
memberikan ASI-nya memunculkan istilah breastfeeding father atau suami
menyusui. Jika ibu merasa didukung, dicintai, dan diperhatikan, maka akan
muncul emosi positif yang akan meningkatkan produksi hormon oksitosin sehingga
produksi ASI menjadi lancar ( Roesli, www.bkkbn.com., 2006).
Dikatakan bahwa keberhasilan memberikan ASI eksklusif
selain bergantung pada ibu juga sangat bergantung pada suami maka tidak
terlepas kemungkinan keterkaitan antara karakteristik suami pada ibu menyusui
dengan dukungan dalam pemberian ASI eksklusif dimana dukungan tersebut
dipengaruhi oleh tingkat usia suami, tingkat pendidikan suami, jenis pekerjaan
suami, tingkat penghasilan suami, tingkat pengetahuan suami tentang pemberian
ASI Eksklusif dan sikap suami terhadap pemberian ASI eksklusif. Berdasarkan
uraian tersebut maka penulis merasa tertarik untuk melakukan penelitian tentang
karakteristik suami pada ibu menyusui dalam pemberian ASI eksklusif di Wilayah
Kerja Puskesmas ................. tahun 2014.
B.
Rumusan Masalah
Dari
uraian yang terdapat pada latar belakang, maka dapat dibuat rumusan masalah
dalam penelitian ini adalah “Bagaimana karakteristik suami dengan ibu menyusui
dalam pemberian ASI eksklusif di Wilayah Kerja Puskesmas .................
tahun 2014 ?”
C. Tujuan
Penelitian
1. Tujuan Umum
Secara
umum penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran tentang karakteristik
suami dengan ibu menyusui dalam pemberian ASI eksklusif di Wilayah Kerja
Puskesmas ................. tahun 2014.
2. Tujuan Khusus
a. Diperolehnya gambaran
karakteristik suami dengan ibu menyusui dalam pemberian ASI eksklusif
berdasarkan tingkat usia.
b. Diperolehnya gambaran
karakteristik suami dengan ibu menyusui dalam pemberian ASI eksklusif
berdasarkan tingkat pendidikan.
c. Diperolehnya gambaran
karakteristik suami dengan ibu menyusui dalam pemberian ASI eksklusif
berdasarkan jenis pekerjaan.
d. Diperolehnya gambaran
karakteristik suami dengan ibu menyusui dalam pemberian ASI eksklusif
berdasarkan tingkat penghasilan.
e. Diperolehnya gambaran
karakteristik suami dengan ibu menyusui dalam pemberian ASI eksklusif
berdasarkan tingkat pengetahuan.
f. Diperolehnya gambaran
karekteristik suami dengan ibu menyusui dalam pemberian ASI eksklusif
berdasarkan sikap.
D. Ruang
Lingkup Penelitian

0 Response to "KARAKTERISTIK SUAMI DENGAN IBU MENYUSUI "