BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Manifestasi klinik infeksi dengan Mycoplasma Pneumoniae – bakteri penyebab pneumonia yang paling
sering – sangat bervariasi, sebagian besar ringan namun ada yang sangat berat
bahkan ada yang menimbulkan kematian. Infeksi ekstra pulmonary sebagai
komplikasi atau penyakit penyerta misalnya abses kulit, abses jaringan lunak,
otitis media, sinusitis, meningitis purulenta. Kadang-kadang
ditemukan perikarditis dan epiglotis yang biasanya berhubungan dengan infeksi
haemophilus influenza tipe B1. Komplikasi yang dapat dijumpai
antara lain empiema danotitis media akut. Sementara komplikasi lainnya seperti
meningitis, perikarditis, osteomielitis, dan peritonitis lebih jarang terjadi
(AMD, 2008).
Pneumonia stadium lanjut akan menimbulkan timbunan cairan
pada selaput paru yang dikenal dengan “pleural effusion”. Dampak yang paling
buruk pada pneumonia adalah kerusakan total pada jaringan paru-paru tersebut
(Setyawati, 2005).
Penyakit ISPA (Infeksi saluran Pernafasan Akut) khususnya
pneumonia masih merupakan penyakit utama penyebab kesakitan dan kematian bayi
dan balita. Pneumonia menyebabkan empat juta kematian pada anak balita di dunia
dan ini merupakan 30% dari seluruh kematian yang ada (Dinkes Kota M aju 2014).
Kasus pneumonia ditemukan paling banyak menyerang anak
balita. Menurut laporan World Health
Organization (WHO), sekitar satu juta anak meninggal tiap tahun akibat
pneumonia (Inspired Kids, 2007). Berdasarkan laporan terbaru UNICEF (United Nations Children’s Fund)/WHO,
sebanyak dua juta balita meninggal akibat pneumonia tiap tahun dan jumlah ini
lebih banyak dari Acquired Immuno
Deficiency Syndrome (AIDS), malaria, dan campak jika digabungkan (Depkes
RI, 2006). Di Amerika Serikat angka kematian akibat pneumonia menduduki urutan
keenam sebagai penyebab kematian dan angka kematian di Amerika 15% (Dinkes Kota
Maju 2014).
Di Indonesia menurut Survey Kesehatan Rumah Tangga (SKRT)
Departemen Kesehatan (2001) penyakit saluran nafas menduduki urutan kedua
sebagai penyebab kematian di Indonesia (Dinkes Kota Maju, 2014. Setiap hari
hampir 300 balita di Indonesia meninggal karena radang paru (pneumonia).
Menurut SKRT tahun 2001, diperkirakan kematian balita karena pneumonia 5 per
1000 balita setiap tahun (Suara Pembaruan, 2006). Direktur Jenderal
Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan (PPM & PL) Depkes
dan Kessos Umar Fahmi Achmadi memperkirakan kematian akibat pneumonia sebagai
penyebab utama ISPA di Indonesia pada akhir 2000 sebanyak 5 kasus diantara 1000
bayi/balita. Berarti, akibat pneumonia sebanyak 150.000 bayi/balita meninggal
tiap tahun atau 12.500 korban per bulan atau 416 kasus sehari atau 17 anak per
jam atau seorang bayi/balita meninggal setiap 5 menit (Setyawati, 2005). Data
dari Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr. Sutomo Surabaya dan RS Persahabatan
Jakarta, angka kematian pneumonia pada penderita rawat inap 20% (Dinkes Kota Maju,
2014).
ISPA masih merupakan masalah kesehatan masyarakat di
Indonesia termasuk di dalamnya di Propinsi LXYZ dan Kota Maju. ISPA merupakan
salah satu penyebab utama kunjungan pasien di sarana kesehatan. Sebanyak 40% –
60% kunjungan berobat di puskesmas dan 15% – 30% kunjungan berobat di bagian
rawat jalan dan rawat inap di rumah sakit disebabkan oleh ISPA. Episode
penyakit batuk pilek pada balita di Indonesia diperkirakan sebesar 3 – 6 kali
per tahun (Dinkes Kota Maju, 2014).
Jumlah kasus pneumonia pada balita di Propinsi XYZ tahun 202014
sebanyak 10.729 kasus terdiri dari 4.346 kasus di Kta A, 259 kasus di Kabupaten
B, 884 kasus di Kabupaten C, 238 kasus di Kabupaten D, 145 di Kabupaten E, 102
kasus di Kabupaten F, 3.931 kasus di Kabupaten G, 221 kasus di Kabupaten H, 448
di Kabupaten I, 154 kasus di Kabupaten BJ(Dinkes Propinsi XYZ, 2014).
Berdasarkan laporan Seksi Pencegahan dan Pemberantasan
Penyakit selama periode waktu 2002 – 2006 temuan kasus pneumonia (umumnya pada
anak balita 1 – 4 tahun) yaitu; pada tahun 2002 terdapat 188 kasus (6,5%)
menjadi 152 kasus (1,32%) pada tahun 2003 dan menurun menjadi 70 kasus (0,63%)
pada tahun 2004 kemudian meningkat kembali menjadi 134 kasus (0,91%) pada tahun
2005 dan 154 kasus (1,04%) pada tahun 2006 (Dinas Kesehatan Kota Maju, 2014).
Sedangkan pada tahun 2007, total penderita pneumonia ringan dan pneumonia berat
berjumlah 159 kasus (1,21%) dari 13.137 balita (Dinkes Kota Maju, 2014).
Menurut data medical
record tahun 2007 di RSUD ................. didapatkan jumlah balita yang
menderita ISPA pada tahun 2007 sebanyak 86 dari 743 angka kesakitan seluruhnya
dimana pneumonia dalam perawatan terdapat 23 kasus yang termasuk di dalam ISPA
atau dapat dikatakan kejadian ISPA tahun 2007 sebanyak 11,57%. Jumlah penderita
pneumonia pada tahun 2007 di Poliklinik Anak RSUD ................. sebanyak
107 penderita dari 3.621 angka kesakitan seluruhnya dengan jumlah penderita
terbanyak pada bulan April yaitu 22 kasus.
Di negara berkembang yang tersering sebagai penyebab
pneumonia pada anak ialah Streptococcus
Pneumoniae dan Haemophilus Influenza.
Pada anak yang berumur 4 – 10 tahun Pneumokokus
dan Haemophilus Influenza merupakan
penyebab utama. Pada kelompok usia prasekolah, virus masih merupakan penyebab
pneumonia yang paling banyak, tetapi bakteri patogen juga mulai sering
ditemukan (AMD, 2008).
Faktor risiko terjadinya kematian bayi dan anak balita
karena pneumonia dipengaruhi oleh faktor anak yaitu anak yang belum pernah
diimunisasi campak, anak belum pernah menderita campak, anak balita yang tidak
memanfaatkan fasilitas kesehatan yang telah disediakan, dan anak yang belum
mendapat vitamin A yang disediakan oleh program. Faktor risiko lainnya yaitu
aspek kepercayaan setempat dalam praktik pencarian pengobatan yang salah
(Depkes RI, 1996).
Faktor risiko pneumonia berikut ini adalah faktor-faktor
yang meningkatkan risiko berjangkitnya pneumonia yaitu umur dibawah 2 bulan,
jenis kelamin laki-laki, gizi kurang, Berat Badan Lahir Rendah, tidak mendapat
ASI memadai, polusi udara, kepadatan tempat tinggal, imunisasi yang tidak
memadai, membedong bayi, defisiensi vitamin A (Kesehatan Jogja, 2005).
Vitamin A essensial untuk pemeliharaan dan kelangsungan
hidup. Diseluruh dunia (WHO, 1991), diantara anak-anak pra sekolah diperkirakan
terdapat 6 – 7 juta kasus baru xeropthalmia tiap tahun, kurang lebih 10%
diantaranya menderita karusakan kornea. Diantara yang menderita kerusakan
kornea ini 60% meninggal dalam waktu satu tahun, sedangkan di antara yang
hidup, 25% menjadi buta dan 50 – 60% setengah buta. Diperkirakan pada satu
waktu sebanyak tiga juta anak menjadi buta karena kekurangan vitamin A, dan
sebanyak 20 – 40 juta menderita kekurangan vitamin A pada tingkat lebih ringan.
Perbedaan angka kematian antara anak yang kekurangan dan tidak kekurangan
vitamin A kurang lebih sebesar 30%. Di samping itu kekurangan vitamin A
meningkatkan risiko anak terhadap penyakit infeksi seperti penyakit saluran
pernafasan dan diare, meningkatkan angka kematian karena campak, serta
menyebabkan keterlambatan pertumbuhan (Almatsier, 2003).
Cakupan pemberian kapsul vitamin A tahun 2003 – 2005
cenderung fluktuatif naik turun dan pada tahun 2005 masih ada 5 kabupaten atau
kota yang belum mencapai target yaitu Kabupaten A, Kabupaten B, Kabupaten C, Kabupaten
D dan Kabupaten E. Dari seluruh kabupaten atau kota yang ada di Propinsi XYZ
ternyata hasil cakupan vitamin A dua kali pada balita, tertinggi di Kota Kabupaten
A (lebih dari 80%) dan terendah di Kabupaten Kabupaten D (kurang dari 80%)
(Dinkes Propinsi XYZ, 2005). Cakupan pemberian kapsul vitamin A tahun 2006 –
2007 Propinsi XYZ yaitu 73,22% telah mencapai target (67%) (Dinkes Propinsi XYZ,
2014).
Hasil cakupan vitamin A anak balita wilayah Kota Maju pada
tahun 2013 sebesar 64,40% untuk bulan Februari dan 62,77% pada bulan Agustus
(Dinkes Kota Maju, 2014), sedangkan tahun 2014 sebesar 48% untuk bulan Februari
dan 67,44% bulan Agustus (Dinkes Kota Maju, 2014). Cakupan vitamin A anak balita
di Kota Maju tahun 2014 sebesar 87,66% (Dinkes Kota Maju, 2014). Hal ini
menunjukkan bahwa pada tahun 2014 cakupan vitamin A anak balita di Kota Maju
telah mencapai target program yaitu sebesar 85%. Cakupan vitamin A anak balita
tahun 2006 sebesar 63,05% untuk bulan Februari dan 76,40% bulan Agustus (Dinkes
Kota Maju, 2014), sedangkan tahun 2007 sebesar 83,35% untuk bulan Februari dan
82,48% bulan Agustus (Dinkes Kota Maju, 2014). Angka ini menunjukkan bahwa
cakupan vitamin A anak balita selama 2006 – 2014 belum mencapai target yang
ditetapkan untuk Kota Maju. Angka di atas juga menunjukkan bahwa cakupan
pemberian kapsul vitamin A anak balita selama 2010 – 2014 di Kota Maju
cenderung fluktuatif naik turun.
Berdasarkan uraian masalah di atas maka penulis tertarik
melakukan penelitian untuk mengetahui hubungan antara kejadian pneumonia pada
balita dengan status pemberian vitamin A di Poliklinik Anak RSUD
..................
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian di atas, dapat dirumuskan masalah sebagai
berikut: “Bagaimanakah hubungan antara kejadian pneumonia pada balita dengan
status pemberian vitamin A di Poliklinik Anak RSUD .................?”
C. Ruang Lingkup Penelitian
1. Jenis
Penelitian : Analitik
2. Obyek
Penelitian : Hubungan antara kejadian pneumonia pada balita dengan status
pemberian vitamin A.
3. Subyek
Penelitian : Ibu dari balita yang menderita pneumonia dan bukan pneumonia yang
berkunjung dan diperiksa di Poliklinik Anak RSUD ..................
4. Lokasi
Penelitian : Poliklinik Anak RSUD ..................
5. Waktu
Penelitian : 3 – 16 Juni 2014.
D. Tujuan Penelitian
1. Tujuan
Umum
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui
hubungan antara kejadian pneumonia pada balita dengan status pemberian vitamin
A di Poliklinik Anak RSUD ..................
2. Tujuan
Khusus
a. Mengetahui
proporsi kejadian pneumonia pada balita di Poliklinik Anak RSUD
..................
b. Mengetahui
proporsi status pemberian vitamin A pada balita di wilayah ………..
c. Mengetahui
hubungan antara kejadian pneumonia pada balita dengan status pemberian vitamin
A di Poliklinik Anak RSUD ..................
E. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat :
1. Bagi
Institusi Pendidikan Program Studi Kebidanan ,,,,,,,,,,,,
Hasil penelitian ini diharapkan
dapat memperluas wawasan mahasiswi kebidanan khususnya mahasiswi Politeknik
Kesehatan Dep.Kes. Tanjungkarang Prodi Kebidanan ………….
2. Bagi
Poliklinik Anak RSUD .................
Sebagai bahan masukan dalam
manajemen pemberantasan penyakit infeksi saluran pernafasan akut khususnya
untuk kejadian pneumonia pada balita.
3. Bagi
Dinas Kesehatan Kota Maju
Sebagai bahan masukan dalam mencapai
tujuan program pemberantasan penyakit infeksi saluran pernafasan akut khususnya
pneumonia pada balita.
4. Bagi
Peneliti Selanjutnya
Sebagai sumber referensi dan bacaan
untuk peneliti selanjutnya dalam kaitannya dengan hubungan antara kejadian
pneumonia pada balita dengan status pemberian vitamin A.

0 Response to "PNEUMONIA BADA BALITA"